Jauhkan Zat Aditif dari Konsumsi Anak-Anak Hiperaktif

Jauhkan Zat Aditif dari Konsumsi Anak-Anak Hiperaktif

 

“Bahan pengawet dan zat aditif dalam makanan memiliki efek-efek merusak pada manusia baik termanifestasi dalam bentuk ADHD, kanker, gangguan neurologist, gangguan lambung dan berbagai penyakit kronis lainnya. “

 

Menghilangkan konsumsi zat pengawet dan pewarna dari makanan anak-anak hiperaktif perlu dipertimbangkan sebagai penanganan standard, tulis sebuah editorial di sebuah jurnal kesehatan the British Medical Journal.

Meskipun bukti subtstansial menunjukkan suatu kaitan dari attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) atau gangguan hiperaktivitas dalam bentuk kurang perhatian, dengan pewarna makanan dan zat pengawet makanan, menghilangkan konsumsi zat-zat ini tetap dipertimbangkan sebagai sebuah alternatif, lebih dari sebuah penanganan standar atas ADHD, tulis Andrew Kemp dari the University of Sydney.

Sebaliknya, di balik kurangnya bukti untuk keefektifannya, penggunaan pengobatan alternatif telah tersebar – lebih dari 50 persen anak-anak yang mendatangi rumah sakit anak di  Inggris dan Australia telah menggunakannya pada tahun terakhir ini.

Dari tiga penanganan utama untuk ADHD bagi anak-anak – obat-obatan, terapi perilaku, dan modifikasi konsumsi makanan – hanya obat-obatan dan modifikasi konsumsi makanan yang ditunjang dengan data-data dari beberapa pengujian. Terapi perilaku, yang tidak memiliki dasar-dasar bukti ilmiah, tetap dipandang perlu untuk “penanganan lengkap”, ulas Kemp.

Jadi mengapa, pertanyaan Kemp, selain bukti yang berlawanan, apakah dihilangkannya zat adiktif makanan tetap merupakan sebuah alternatif dan bukannya penanganan standard untuk ADHD?

Data yang diterbitkan dalam tahun 2007 menunjukkan bahwa anak-anak normal (bukan hiperaktif) secara signifikan menjadi lebih hiperaktif setelah makan suatu campuran dari pewarna makanan dan bahan pengawet (sodium benzoate), dengan implikasi nyata bagi anak-anak penderita ADHD.

Memperjelas penemuan ini, the European Food Safety Authority (EFSA) mengamati bukti yang mengaitkan bahan pengawet dan zat pewarna dengan perilaku hiperaktif dari 22 penelitian antara tahun 1975 hingga 1994 dan tambahan dua analisis-meta.

Enambelas dari penelitian ini dilaporkan memberikan efek-efek positif pada sedikitnya beberapa anak. Namun, EFSA menunjukkan bahwa hiperaktivitas telah memiliki sebab-sebab sosial dan biologis yang luas, dan secara eksklusif berfokus pada zat-zat makanan adiktif dapat “mengurani tersedianya penanganan lengkap” bagi anak-anak dengan gangguan perilaku tersebu. Tetapi Kemp berargumen, untuk memotong penambahan bukti dari faktor konsumsi makanan juga dapat mengerjakan hal ini.

Terjadi peningkatan jumlah anak yang minum obat hiperaktivitas — 2.4% dari anak-anak di negara bagian Australia. Menjauhkan zat pewarna dan pengawet sebagai intervensi alternatif yang tidak membahayakan, menjadikan suatu periode uji coba untuk menghapuskan bahan ini perlu dipikirkan sebagai sebuah penanganan standard, demikian disimpulkan Kemp.

Penelitian ini menunjukkan bahwa obat alternatif telah dikenal bertahun-tahun. Bahan pengawet dan zat aditif dalam makanan memiliki efek-efek merusak pada manusia baik termanifestasi dalam bentuk ADHD, kanker, gangguan neurologist, gangguan lambung dan berbagai penyakit kronis lainnya.

Diadaptasi dari artikel “Remove Food Additives From Hyperactive Children’s Diets, Experts Suggest” oleh Leslee Dru Browning

———————————–

Roti beras kering “N_asiKriuk” Debbie berupaya mengurangi bahan kimia tambahan (chemical additives) yang dikonsumsi ibu hamil, ibu menyusui dan anak kecil. Di tengah marak-nya penyalah-gunaan bahan kimia tambahan, N_asiKriuk memberikan suatu pilihan roti tawar yang tidak menggunakan bahan kimia tambahan apapun, aman dikonsumsi siapa saja terutama ibu hamil, menyusui & anak kecil.

- Tanpa kimia pewarna / pemutih  > Warna asli

- Tanpa kimia pengawet           > Kering, tak perlu pengawet

- Tanpa kimia pengembang roti    > Dibuat dengan proses “pop”

- Tanpa kimia penguat rasa / MSG > Rasa original

- Tanpa kimia pemanis /& flavor  > Disajikan dgn topping2 sehat

Informasi mengenai roti beras kering atau rice cake “N_asiKriuk Debbie” dapat anda jumpai di Facebook “N_asiKriuk Debbie”.

              

N_asiKriuk Debbie bisa dijumpai di Jakarta:

- Supermarket Rezeki–H. Wuruk, Jkt & Karawachi; Ph: 021-3800182

- Toko Buah Total-Taman Palem Lestari; Ph: 021-5454545

- Club Sehat Jl. Cideng Barat 62B;     Ph: 021-91263363

- Club Sehat Jl. Pluit Sakti Raya 33;  Ph: 021-91300234

Atau dipesan melalui on line shop:  Sentra Camilan Nusantara,

http://www.sentracamilannusantara.com/      

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Chemical Additives – Are They Slowly Killing Our Children?

Chemical Additives – Are They Slowly Killing Our Children?      by Lauralee Berrill

http://www.organicconsumers.org/articles/article_9824.cfm

“Some children are more sensitive to food chemicals and display immediate effects soon after ingestion of additives, colours in particular. In small amounts additives are not harmful. Effects are dose related and, tragically, dose for weight, children are consuming several times more additives than the acceptable daily intake (ADI).”
Let me start by saying a chemical additive doesn’t necessarily ‘appear’ to be a problem immediately after ingestion. Quite often the effects are cumulative; a gradual build-up in the body produces roller-coaster days, some good, some bad. Some children are more sensitive to food chemicals and display immediate effects soon after ingestion of additives, colours in particular. In small amounts additives are not harmful. Effects are dose related and, tragically, dose for weight, children are consuming several times more additives than the acceptable daily intake (ADI). Before we get into the details of the most common problem foods, it is necessary to understand the testing and approval process, with emphasis on those factors that may confer the level of risk of toxic additives in infants and young children’s diets.

The standard application and approval process put forward by the Food Standards Australia New Zealand (FSANZ) includes a requirement that the manufacturers provide sufficient scientific evidence to support the safety of an additive. Generally, additives are tested on two species of animal. Test animals are then observed for any effects on DNA, detectable links to cancer, major vital organ damage, etc. If any signs of the aforementioned effects are observed at high doses then a non-observable effect level is established by slowly reducing the level of additive until the animal displays no ‘noticeable effect’. This reduced level is considered a ‘safe level’ for human consumption. The concept of a safe level is based on the average adult intake. At present, there is no separate ADI for children. Consequently, dose for weight our children are getting horrific amounts of these toxic additives in everyday snacks and meals (1).

What is even more disturbing about this approval process is that additives are tested in isolation. The reality is humans consume innumerable and frightening cocktails of additives in combination.
How these additives react in combination has only become of interest to scientific fields in recent years. In March 2006, the Soil Association and Organix brands presented the results of a three-year study, on the effects of combining four common food additives. The results propose that the tested combinations can have a neurotoxic effect.

The toxic effects on nerve cells were examined by using a combination of the following four common food additives: E133 Brilliant Blue with E621 monosodium glutamate (MSG) and
E104 Quinoline Yellow with E951 L-aspartyl-L-phenylalanine methyl ester.

The mixtures of the additives had a much more potent effect on nerve cells than each additive on its own. The effect on cells was up to four times greater when Brilliant Blue and MSG were combined, and up to seven times greater when Quinoline Yellow and Aspartame were combined.

The study shows that when the nerve cells were exposed to MSG and Brilliant Blue or Aspartame and Quinoline Yellow the additives stopped the nerve cells from normal growth and interfered with proper signalling systems.

The experiments were done in laboratory conditions and the additives were combined in concentrations that theoretically reflect the compound that enters the bloodstream after a typical children’s snack and drink (2).

Risk of toxic additives, in isolation or in combination, is evidently most high among infants and children. Age is an important susceptibility factor, with infants and young children being most vulnerable to chemical carcinogens. Scientific risk assessment data suggests that infants (newborns) have a limited capability to detoxify due to premature development of the liver and drug-metabolising enzymes, furthermore their extremely small body weight may provoke toxicity.

The fact that young children have higher nutritional requirements, smaller body masses and their diet is less varied than those of adults suggests that they may have the greatest susceptibility to toxic effects. For example, their soft drink and dairy consumption alone may be as much as 16 times greater than that of adults (3).

There are many more factors that promote increased susceptibility of infants and young children to toxic additives, all of which have been recognised in health and science fields for well over a decade but has not been given a moment of thought when determining ADI levels for additives! To date, all additives are passed for approval without being tested for any effects they may have on children’s behaviour and learning.

Clearly, it is up to the general population of adults to be calling for stricter regulation and more caution to be taken with food additives in an effort to protect the vulnerability of future generations. Children have little control over what they eat, they are less informed than the adults around them and therefore rely mainly on adults for making informed decisions and taking precautions to protect their precious lives. As a parent/carer/teacher every effort should be made to identify toxicities that could potentially harm our children and put a stop to the plethora of toxic additives going into their tiny bodies.

About the author

Lauralee BaSc Major in Sport, Exercise & Nutrition. Eco – entrepreneur with Miessence; the world’s first range of Organic Products Certified to International Food Standardswww.miorganicfamily.com
Currently writing a book “Toxic Generation” insight into the dangerous effects that toxic chemicals in our food & personal care products can have on our health.

———————————–

Roti beras kering “N_asiKriuk” Debbie berupaya mengurangi bahan kimia tambahan (chemical additives) yang dikonsumsi ibu hamil, ibu menyusui dan anak kecil. Di tengah marak-nya penyalah-gunaan bahan kimia tambahan, N_asiKriuk memberikan suatu pilihan roti tawar yang tidak menggunakan bahan kimia tambahan apapun, aman dikonsumsi siapa saja terutama ibu hamil, menyusui & anak kecil.

- Tanpa kimia pewarna / pemutih  > Warna asli

- Tanpa kimia pengawet           > Kering, tak perlu pengawet

- Tanpa kimia pengembang roti    > Dibuat dengan proses “pop”

- Tanpa kimia penguat rasa / MSG > Rasa original

- Tanpa kimia pemanis /& flavor  > Disajikan dgn topping2 sehat

Informasi mengenai roti beras kering atau rice cake “N_asiKriuk Debbie” dapat anda jumpai di Facebook “N_asiKriuk Debbie”.

              

N_asiKriuk Debbie bisa dijumpai di Jakarta:

- Supermarket Rezeki–H. Wuruk, Jkt & Karawachi; Ph: 021-3800182

- Toko Buah Total-Taman Palem Lestari; Ph: 021-5454545

- Club Sehat Jl. Cideng Barat 62B;     Ph: 021-91263363

- Club Sehat Jl. Pluit Sakti Raya 33;  Ph: 021-91300234

Atau dipesan melalui on line shop:  Sentra Camilan Nusantara,

http://www.sentracamilannusantara.com/      

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Alergi Makanan Berbuntut Autisme

Alergi Makanan Berbuntut Autisme

Sumber : http://www.kompas.com

Alergi Makanan Berbuntut Autisme

 

“Sistem susunan saraf pusat atau otak pun dapat terganggu oleh reaksi alergi. Apalagi otak merupakan organ tubuh yang sangat sensitif dan lemah. Jika fungsi otak terganggu, banyak sekali kemungkinan manifestasi klinisnya, termasuk gangguan perkembangan dan perilaku, semisal gangguan konsentrasi, gangguan perkembangan motorik, gangguan emosi, keterlambatan bicara, hiperaktif, hingga autisme.”

Oleh: dr. Widodo Judarwanto, Sp.A., di Jakarta
Alergi makanan disebut sebagai salah satu faktor pencetus autisme pada anak. Namun, banyak orangtua yang tak mengetahui hal ini. Mereka baru ngeh setelah anak tumbuh besar dan telanjur sulit ditangani. Kalau saja kesadaran akan bahaya alergi makanan itu datang sejak dini, penderitaan anak dapat jauh dikurangi.
Alergi makanan merupakan kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh, yang ditimbulkan oleh alergi terhadap makanan tertentu. Pada anak-anak, alergi makanan dapat menyerang semua organ tanpa kecuali, mulai dari ujung dahi sampai ujung jempol kaki. Bahaya dan komplikasi yang muncul pun beragam. Reaksi atas alergi makanan (biasa disebut manifestasi klinis) berpotensi mengganggu semua sistem dan organ tubuh.
Keluhan alergi sering muncul dengan sangat misterius. Jadwalnya berubah-ubah, datang dan pergi tanpa permisi. Kadang berulang. Minggu ini sakit tenggorokan, minggu depan mungkin saja sakit kepala, pekan depannya kena diare, atau sulit makan berminggu-minggu lamanya. Bagaimana keluhan yang berubah-ubah secara misterius itu terjadi? Entahlah, karena sampai saat ini masih menjadi misteri bagi para peneliti alergi.
Yang banyak disepakati, alergi dianggap sebagai proses inflamasi yang tidak hanya berupa reaksi (cepat atau lambat), tetapi juga bersifat kronis dan kompleks. Gejala klinisnya terjadi karena reaksi imunologi dalam tubuh, yang muncul untuk menangkis serangan terhadap organ sasaran. Menurut teori ini, jika organ sasarannya paru-paru, maka manifestasi klinisnya berupa batuk atau asma. Bila sasarannya kulit, ya akan terlihat seperti urtikaria (rasa gatal pada kulit yang disertai bentol-bentol merah).
Menyerang pusat saraf
Celakanya, tak hanya paru-paru atau kulit yang kerap jadi sasaran tembak. Sistem susunan saraf pusat atau otak pun dapat terganggu oleh reaksi alergi. Apalagi otak merupakan organ tubuh yang sangat sensitif dan lemah. Jika fungsi otak terganggu, banyak sekali kemungkinan manifestasi klinisnya, termasuk gangguan perkembangan dan perilaku, semisal gangguan konsentrasi, gangguan perkembangan motorik, gangguan emosi, keterlambatan bicara, hiperaktif, hingga autisme.
Austisme sendiri diyakini para peneliti sebagai kelainan anatomis pada otak. Secara ilmiah telah dibuktikan, autisme merupakan penyakit yang disebabkan oleh banyak hal atau multifaktor. Selain karena alergi makanan, ada ahli yang menyebut autisme timbul karena gangguan biokimia. Sementara ahli lain menyebutnya sebagai gangguan jiwa, akibat masuknya unsur logam berat dan bahan-bahan berbahaya ke dalam tubuh.
Namun, apa pun penyebabnya, autisme merupakan gangguan perkembangan pervasif pada anak, yang ditandai dengan gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi, dan interaksi sosial. Bagaimana alergi makanan sampai mengganggu fungsi otak, sehingga menyebabkan autisme, pun masih menjadi misteri buat para ahli. Dari sana muncul beberapa teori yang mungkin bisa menjelaskan hal tersebut.
Selain teori gangguan organ sasaran seperti yang dijelaskan di muka, ada juga teori pengaruh metabolisme sulfat, teori gangguan perut dan otak, serta teori pengaruh reaksi hormonal. Gangguan metabolisme sulfat mempengaruhi, otak, jika ada bahan makanan yang mengandung sulfur masuk ke dalam tubuh. Bahan makanan itu – melalui proses konjugasi fenol – kemudian diubah menjadi sulfat yang kelak dibuang melalui urine.
Namun, proses itu bisa tidak berjalan mulus pada orang tertentu. Pada penderita alergi yang memiliki gangguan saluran cerna, akan terjadi gangguan pada proses metabolisme sulfur tersebut. Akibatnya, pengeluaran sulfat melalui urine menjadi tidak lancar, sekaligus mengubah sulfur menjadi sulfit. Sulfit inilah yang mengakibatkan gangguan pada kulit. Bersama beberapa zat toksin, sulfit juga mengganggu fungsi otak.
Toh, lepas dari peran zat kimia beracun yang tidak sempat dibuang tubuh (sulfit dan kawan-kawan), saluran cerna sendiri memang rentan terhadap gangguan alergi. Teori gangguan pencernaan dan kaitannya dengan sistem saraf pusat itu, kini sedang menjadi perhatian utama para ahli alergi. Karena dipercaya dapat mendekati fakta, bagaimana alergi pada akhirnya muncul menjadi gangguan perilaku, termasuk autisme.
Sementara teori keterkaitan hormon dengan peristiwa alergi dilaporkan oleh cukup banyak peneliti. Perubahan hormonal dapat menyebabkan gangguan pada fungsi otak dan perilaku. Penderita alergi biasanya mengalami penurunan hormon, seperti kortisol dan metabolik. Sebaliknya, hormon progesteron dan adrenalin cenderung meningkat ketika proses alergi itu timbul. Perubahan hormonal itu menyebabkan seseorang gampang lelah, mudah marah, cemas, panik, sakit kepala, sakit kepala sebelah, kerontokan rambut, dan banyak lagi.
Teori-teori yang menjelaskan hubungan antara alergi dengan gangguan susunan saraf pusat dan fungsi otak tadi, setidaknya memperkuat dugaan bahwa alergi – termasuk alergi makanan – memang punya peran dalam mencetuskan atau memperbesar autisme. Lantas, bagaimana mengetahui dan melakukan pencegahan dini, agar alergi makanan tak sampai menjerumuskan anak-anak ke jurang austisme?
Pintar di kelas
Sebelumnya, orangtua perlu mengetahui, makanan atau minuman apa saja yang berpotensi mengundang alergi. Makanan dan minuman itu di antaranya daging ayam, daging itik, ikan salmon/tuna, alkohol, daging domba, daging kalkun, jeruk, pisang, pir, anggur, jagung, gula, ubi, singkong, asparagus, selada, kembang kol, bayam, brokoli, teh, kopi, dan minyak zaitun. Penyebab alergi ini bersifat individual, sangat berbeda dari anak yang satu ke anak lainnya. Si Andri misalnya, alergi terhadap daging ayam, tapi si Benny belum tentu.
Selain makanan-makanan di atas, ada juga beberapa bahan yang dapat menggangu otak, yang terdapat pada makanan atau minuman. Misalnya, salisilat (mudah ditemukan pada buah, kacang, kopi, teh, bir, anggur, dan obat-obatan sejenis aspirin). Juga amino (diproduksi selama fermentasi dan pemecahan protein, ditemukan dalam keju, cokelat, anggur, tempe, serta sayur dan buah seperti pisang, alpukat, dan tomat), Atau benzoat (ditemukan dalam beberapa buah, sayur, kacang, anggur, kopi).
Penyebab alergi bisa juga datang dari bahan kimia yang digunakan dalam pembuatan dan pemrosesan makanan. Contohnya aditif makanan berupa bahan pengawet, bahan pewarna, pemutih, enzim, bahan pelapis atau pengilat, pengatur pH, bahan pemisah, ragi makanan, pelarut untuk ekstraksi, dan bahan pemanis. Atau bahan tambahan semisal rempah-rempah buatan, kemasan makanan, obatan-obatan, serta bahan kimia pertanian yang sering digunakan saat membuat makanan atau minuman.
Orangtua juga perlu memahami macam-macam gejala dan gangguan alergi yang muncul pada anak. Misalnya, gerakan motorik berlebihan pada anak berusia di bawah enam bulan (mata dan kepala bayi sering menengok ke atas, tangan dan kaki bergerak berlebihan). Sedangkan untuk bayi usia di atas enam bulan, bila digendong sering minta turun dan sering membentur-benturkan kepala, bergulung-gulung dan menjatuhkan diri di kasur, serta suka memanjat.
Atau sebaliknya, anak mengalami gangguan perkembangan motorik, sehingga tidak bisa bolak balik, duduk, dan merangkak sesuai usianya. Jika berjalan sering terjatuh dan terburu-buru, sering menabrak dan jalan jinjit, serta gemar duduk pada posisi huruf “W” (posisi kaki ke belakang). Sampai umur di bawah 15 bulan, anak belum juga bisa berkata-kata, bahkan pada usia 20 bulan hanya sanggup mengucapkan 4 – 5 kata.
Gangguan tidur juga bisa menjadi pertanda. Misalnya anak suka tidur dalam posisi menungging, suka berbicara, tertawa, berteriak saat tidur, sulit tidur, sering terbangun malam, gelisah saat memulai tidur, gigi gemeretak, serta tidur mengorok. Bisa juga sangat agresif ketika tidak tidur, seperti gemar memukul kepala sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
Anak yang mengalami alergi makanan sering juga mengalami gangguan konsentrasi. Cepat bosan dalam beraktivitas (kecuali saat menonton televisi, membaca komik, dan main game), tidak bisa belajar lama, selalu terburu-buru, tidak mau antre, tidak teliti, serta sering kehilangan barang. Nilai pelajaran di sekolah naik-turun secara drastis. Nilai pelajaran tertentu baik, tapi pelajaran lain buruk. Anak pun sulit mengerjakan pekerjaan sekolah dengan baik, plus sering mengganggu teman saat pelajaran berlangsung.
Celakanya, anak dengan gangguan perilaku itu sekilas tampak seperti anak cerdas dan pintar!
Terserah orangtua 
Pengetahuan tentang makanan dan minuman pemicu alergi, berikut gangguan perilaku yang ditimbulkannya, penting diketahui orangtua. Namun setelah itu, lebih penting lagi mengetahui secara pasti, makanan atau minuman jenis apa yang menjadi pemicu alergi anak. Tak gampang memang karena menyimpulkan anak mengalami alergi terhadap makanan tertentu tidak dapat diputuskan hanya dengan melakukan tes kulit atau tes alergi lainnya. Pemeriksaan-pemeriksaan itu memiliki sejumlah keterbatasan.
Diagnosis pasti adanya alergi makanan baru dapat dipastikan setelah dilakukan uji alergi dengan menggunakan metode yang biasa disebut Double Blind Placebo Control Food Challenge(DBPCFC), dengan cara mengeliminasi provokasi makanan penyebab alergi pada anak. Pendiagnosisan cara ini harus dilakukan oleh ahlinya, dengan bantuan orangtua si anak tentunya.
Jika pemicu alergi telah diketahui, penanganan terbaik untuk anak hanyalah dengan menghindari makanan atau minuman itu. Pemberian obat-obatan antialergi dalam jangka panjang tidak dianjurkan karena merupakan bukti kegagalan dalam mengidentifikasi penyebab alergi. Dengan mengenali secara cermat gejala alergi dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, alergi dan gangguan autisme dapat dikurangi.
Itu sebabnya, sangat penting melakukan deteksi dini terhadap gejala alergi dan gangguan perkembangan dan perilaku anak. Bila jauh-jauh hari diketahui, pengaruh alergi terhadap fungsi otak yang berujung pada autisme dapat dicegah, atau paling tidak diminimalkan. Meskipun tidak bisa hilang sepenuhnya, alergi makanan biasanya akan membaik pada usia tertentu. Setelah usia dua tahun, imaturitas saluran cerna akan membaik, sehingga gangguan saluran cerna karena alergi makanan ikut berkurang.
Bila gangguan cerna membaik, logikanya gangguan perilaku pun akan berkurang. Selanjutnya, pada usia di atas 5 – 7 tahun, alergi makanan terus berkurang secara bertahap, sehingga gangguan autisme ikut berkurang secara bertahap. Meskipun alergi makanan tertentu biasanya akan menetap sampai dewasa, seperti alergi terhadap udang, kepiting, atau kacang tanah.
Sebaliknya, jika orangtua tak mengenali gangguan alergi itu sejak dini alias ketelanjuran, penanganannya harus dilakukan secara holistik, melibatkan beragam disiplin ilmu, seperti bidang alergi anak, neurologi anak, psikiater anak, tumbuh kembang anak, endokrinologi anak, dan gastroenterologi anak. Jelas, jauh lebih merepotkan dan tentu saja, lebih banyak makan biaya.

————–

Kebanyakan orang tua berpandangan makan roti atau tahu itu sehat. Kalau kimia berbahaya “formalin” di-salah-gunakan oleh produsen tahu, ada 3 macam kimia ber-bahaya yg ada pada roti yg disalah-gunakan oleh banyak produsen roti:
1. Kimia Pengawet
2. Kimia Pengembang / Pengempuk
3. Kimia Pemutih

1.  Kimia Pengawet
Produsen roti ingin roti-nya tidak ber-jamur & tahan selama-lama-nya untuk meningkatkan keuntungan. Pengawet yg ditambahkan pada roti2 di Indonesia saat ini diperkirakan sampai 5 kali lipat dari pada yg dibenarkan oleh undang2.  Bahkan beberapa pengawet yg dipakai bukan food grade / pengawet makanan.

 

2.  Kimia Pengembang / Pengempuk

Jaman dulu orang memakai ragi / yeast untuk membuat roti. Yeast ini bukan bahan kimia, tetapi microorganisme yg meng-gigit-in adonan tepung sambil mengeluarkan gas CO2 yg membuat roti mengembang pelahan2. Microorganisme ini tidak ber-bahaya karena mati setelah roti di-oven.
Sekarang ini roti diproduksi memakai kimia pengembang dalam takaran yg banyak. Begitu kimia pengembang dimasukkan pada adonan, gelembung2 gas langsung terjadi , dan roti langsung mengembang & mem-besar ber-kali2 lipat. Dgn adonan yg sedikit saja, roti bisa mengembang menjadi besar sekali & empuk dalam waktu yang singkat. Kimia pengembang ini dalam jumlah banyak menyebabkan kanker(carcinogenic).

3. Kimia Pemutih

Karena warna asli gandum bukan putih, maka roti dibuat putih bersih seperti kapas melalui proses pemutihan kimia (bleaching) dengan memakai kimia pemutih mengandung chlorine yang tidak baik bagi anda apalagi anak kecil. Orang barat ada pepatah tua “The whiter the bread, the quicker you’re dead!” –  Semakin putih roti anda, semakin dekat anda dengan kematian.

                            

Siapa Korban-nya? Mengapa Tiap Tahun Jumlah Anak Cacat Mental Terus Bertambah!

Kimia2 yang ada pada roti selain menyebabkan kanker (carcinogenic), bagi yg kebetulan tidak tahan  / allergi terhadap kimia2 tersebut, bisa menyebabkan gangguan syaraf,  ADHD hyperactive, keterbelakangan, gangguan syaraf, cacat otak, IQ rendah, dll. Karena susunan syaraf anak kecil atau bayi masih rentan, roti yang mengandung banyak bahan kimia berlebih ini tidak disarankan bila dikonsumsi ibu hamil, ibu menyusui & anak kecil.

 

Lalu apa solusi-nya bagi pecinta roti?

Pembuat roti beras kering “N_asiKriuk”, ibu Debbie memberi penjelasan kepada saya: N_asikriuk berupaya mengurangi jumlah anak penyandang cacat mental, seperti autis, ADHD, mental retardasi, dll. Di tengah marak-nya penyalah-gunaan bahan kimia tambahan, N_asiKriuk memberikan suatu pilihan roti tawar yang tidak menggunakan bahan kimia tambahan apapun, aman dikonsumsi siapa saja terutama ibu hamil, menyusui & anak kecil.

- Tanpa kimia pewarna / pemutih  > Warna asli

- Tanpa kimia pengawet           > Kering, tak perlu pengawet

- Tanpa kimia pengembang roti    > Dibuat dengan proses “pop”

- Tanpa kimia penguat rasa / MSG > Rasa original

- Tanpa kimia pemanis /& flavor  > Disajikan dgn topping2 sehat

Informasi mengenai roti beras kering atau rice cake “N_asiKriuk Debbie” dapat anda jumpai di Facebook “N_asiKriuk Debbie”.

              

N_asiKriuk Debbie bisa dijumpai di Jakarta:

- Supermarket Rezeki–H. Wuruk, Jkt & Karawachi; Ph: 021-3800182

- Toko Buah Total-Taman Palem Lestari; Ph: 021-5454545

- Club Sehat Jl. Cideng Barat 62B;     Ph: 021-91263363

- Club Sehat Jl. Pluit Sakti Raya 33;  Ph: 021-91300234

Atau dipesan melalui on line shop:  Sentra Camilan Nusantara,

http://www.sentracamilannusantara.com/     

 

Wikipedia: Bread Improver  (http://en.wikipedia.org/wiki/Bread_improver )

two ingredients commonly used in bread improvers were singled out as causing harm to those who ate the bread. Calcium propionate (Preservative 282) was linked to Attention-Deficit Disorder among children. Potassium bromate was also singled out as being potentially carcinogenic.

 

Wikipedia: White Bread ( http://en.wikipedia.org/wiki/White_Bread)

white flour is often bleached using potassium bromate or chlorine dioxide gas to remove any slight yellow color and make its baking properties more predictable. Bleaching gives white flour a far longer shelf life.

http://www.nowpublic.com/health/fda-should-ban-potassium-bromate-and-bromated-flour

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Roti Menyebabkan Low IQ & Kanker

Roti Menyebabkan Low IQ & Kanker


Potassium Bromate – The Silent Killer.

http://www.iodine-resource.com/potassium-bromate.html

Di Indonesia, roti diberi kimia pengembang Potassium Bromate dalam jumlah banyak, supaya roti dapat mengembang menjadi besar dalam tempo yang singkat. Semakin besar roti mengembang, roti akan semakin empuk & besar. Roti yg memakai kimia pengembang banyak juga lebih disukai orang Indonesia karena mereka lebih menyukai roti yg besar & empuk.

Kimia pemgembang ini adalah potassium bromate, yang di banyak negara seperti di China, Nigeria, Brazil, Peru, Sri Lanka, Kanada, Eropa termasuk Inggris sudah dilarang karena menyebabkan kanker.
Zat kimia beracun ini di negara barat dijulukin pembunuh diam “The Silent Killer”.

Seringkali potassium bromate ini tidak dicantumkan dalam label roti, tapi disembunyikan sebagai enriched flour / “tepung yang telah diperkaya”.

Karena sebelum-nya telah sempat terlanjur mendukung, di Amerika FDA, masih memperbolehkan asal dalam batas yang wajar, tetapi menghimbau untuk tidak dipakai. Di negara bagian Kalifornia, roti yang mengandung potassium bromate juga harus diberi warning label “label peringatan”. CDC (Center for Disease Control and Prevention) & Center for Science sudah mengklasifikasikan potassium bromate sebagai “toxin” / zat racun dan menghimbau untuk dihindari.

Banyak Negara melarang potassium bromate ini karena Negara2 ini menyadari kimia ini beracun & penyebab kanker, dan mereka meragukan integritas para produsen roti untuk tidak menaruh potassium bromate dalam jumlah banyak pada produk roti mereka.
Semakin banyak potassium bromate yg ditaruh dalam tepung, semakin banyak sisa toxin potassium bromate yg tertinggal dalam roti yang kita makan dan semakin besar penumpukan toxin ini dalam tubuh kita.
Selain kanker, Potassium Bromate ini membuat berbagai macam masalah, seperti iodine deficiency, penyakit mental, depresi, tuli, penurunan kinerja organ jantung & sex, dll.

Roti tidak bertahan lama & tumbuh jamur bila tidak diberi kimia pengawet. Kimia pengawet ini di negara2 ber-kembang seperti Indonesia yang juga ber-udara lembab sering disalah gunakan, karena profit produsen roti menurun tajam, bila roti rusak dalam 1-2 hari.
Ada beberapa produsen menggunakan pengawet non-makanan yang tidak seharus-nya digunakan untuk makanan dan ada yang memasuk-kan pengawet dalam takaran ber-kali2 lipat, yang melebihi batas maksimal yg diperbolehkan oleh undang2 supaya roti mereka bisa ber-tahan lama sekali. Zat kimia pengawet ini bila dikonsumsi terlalu banyak, apalagi bagi yg kebetulan alergi atau tidak tahan, bisa menyebabkan ber-macam2 masalah seperti kerusakan pencernaan, depresi, irritabilitas, gangguan tidur, mental retardasi, cacat otak, rusak ingatan, rusak kemampuan konsentrasi, hiperaktif, jantung ber-detak cepat, dll.

Sebaik-nya wanita hamil, menyusui dan anak kecil tidak meng-konsumsi roti yang mengandung banyak kimia karena bisa mempengaruhi perkembangan anak kecil atau bayi yang dikandung atau disusui yg masih rentan & tidak tahan terhadap kimia tsb.

Rice Cake (Roti Beras Kering) Bisa Menjadi Substitute Yang Lebih Baik.
Rice cake (Roti beras kering) yang dimaksud di sini adalah yang di negara barat disebut dengan “rice cake” dan banyak dijual di toko2 makanan sehat /  “health food store”.

Rice cake bebas dari bahan kimia tambahan / “chemical additives” apapun:

No artificial coloring
No preservative
No artificial flavor
No bread improver
No MSG or flavor enhancer

Rice cake dibuat tanpa kimia pengembang, rice cake mengembang karena dipanaskan & ditaruh dalam ruang vakum. Karena kering & renyah, rice cake  bisa bertahan cukup lama tanpa memakai pengawet.

 

Rice cake buatan local: N_asiKriuk Debbie bisa dijumpai di Jakarta:

- Supermarket Rezeki–H. Wuruk, Jkt & Karawachi; Ph: 021-3800182

- Toko Buah Total-Taman Palem Lestari; Ph: 021-5454545

- Club Sehat Jl. Cideng Barat 62B;     Ph: 021-91263363

- Club Sehat Jl. Pluit Sakti Raya 33;  Ph: 021-91300234

Atau dipesan melalui on line shop:  Sentra Camilan Nusantara,

http://www.sentracamilannusantara.com/      

 

 

 

What Does Brominated Flour Mean?

http://www.ehow.com/facts_6869674_brominated-flour-mean_.html

By Cynthia Chase , eHow Contributor

Bread made from brominated flour is potentially carcinogenic.

Brominated flour is flour which is treated with a chemical oxidizer called potassium bromate. Some bakers prefer brominated flour because it produces glutinous dough that endures rigorous processing. Brominated flour is a possible carcinogen which is banned in many countries.
Read more: What Does Brominated Flour Mean? | eHow.com http://www.ehow.com/facts_6869674_brominated-flour-mean_.html#ixzz1qBMjHaI4

 

  1. 1.  Attractive Bread Products
  • o Many fast-food companies use brominated flour to enhance the appearance of their baked goods. Rolls made with potassium bromate rise higher and display a finer crumb than breads made without the additive.
  1. 2.  Health Hazards of Potassium Bromate
  • o The potassium bromate in brominated flour may be toxic to the endocrine glands.

The International Agency for Research on Cancer has classified potassium bromate as a class 2B carcinogen in humans, meaning it is possibly carcinogenic to humans.

The Center for Science in the Public Interest or “CSPI,” petitioned the FDA in 1999 to ban the use of potassium bromate in bread dough, stating “the FDA has known for years that bromate causes cancers in laboratory animals…”

  • o Brominated Flour Ban
  • o Potassium bromate is a banned as a flour and food additive in Canada, the United Kingdom, Europe and other parts of the world.

California requires warning labels on baked goods containing brominated flour.

The U.S. Food and Drug Administration allows standardized levels of potassium bromate in flour, but advises bakers to voluntarily reduce or eliminate their use of the chemical.


Read more:
What Does Brominated Flour Mean? | eHow.com http://www.ehow.com/facts_6869674_brominated-flour-mean_.html#ixzz1qBPhU52v

 

Dipublikasi di Anak Cerdas Tanpa Kanker | Tag , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar